2 TOPENG SANDIWARA

 

2 TOPENG SANDIWARA

            Malam ini senilir angin menyapu wajahku yang sembab sambil sesekali menerbangkan Beberapa helai rambutyang tiba-tiba saja sudah serapuh kapas.

‘‘Sayang.kenapa ada disini?’’ Seseorang menanyakan alasan keberadaanku ditaman belakang Rumahnya.aku sama sekali tidak bergeming ,hanya setetes air mata yang mewakili diriku,betapa Hancurnya aku saat ini.

“aila.ada apa’’?seseorang bertubuh tinggi dengan kharisma yang mengkar kuat dari wajahnya kini Berjalan mendekat.” menjauh ! aku berteriak histeris saat ia mencoba menyentuh tubuhku.Langsung saja aku berdiri untuk menghindari dirinya membuat tangannya menggantung di udara begitu saja.ia Menatapku,menatap tepat dikornca mataku,mata hitamnyamenampakkan begitubanyak pertanyaan Disana.”jangan mendekat!’’aku memberi perintah dengan frustasi ,saat ini aku benar-benar tidak tau apa yang harus kulakukan,pikiranku saat ini sedang kacau gara-gara dokter tadi siang Memberitahukubahwa penyakit ganas yang menggerogoti tubuhku saat ini sudah stadium 3 dan Harus dioprasi serta diberikan kemotherapy,tapi dokter menyarankan agar aku segera berangkat ke Amerika untuk mendapatkan penangananterbaik.aku benar-benar tidak tau harus berbuat apa kali Ini.

‘’papa menghawatirkanmu,sayang’’.laki-laki itu berujar sambil melangkah mendekatiku,sama sekali tidak menghiraukan perkataan barusan,aku melangkah mundur tapi walau begitu jarak antara kami berdua semakin sedikit,hingga kurasakan tangannya yang kekar meraih lenganku lalu menariknya dengan kuat, aku yang sama sekali tidak siap dengan apa yang ia lakukan langsung saja membentur dada bidangnya lalu ia memeluk dengan kuat, tidak memberiku celah sedikit pun untuk bisa lepas darinya.

“Hiksss”  aku menangis sesegukan didalam pelukannya.

“Ada apa?”. Ia bertanya pelan, tepat disamping telingaku. Aku mencoba mengatur deru napasku Yang tidak stabil, memejamkan mata sesaat lalu membukanya kembali. “kenapa harus seperti ini,Devan?. Aku membutuhkanmu disisiku!” aku bersuara dengan suara serak khas orang menangis. “Tenangkan dirimu ai, kamu lebih membutuhkan uang saat ini untuk pengobatan”. Kegundahan ku, Hatiku terasa sedikit lega setelah memberitahukan segalanya “sayang!.sedang apa disana?”.

Suara seseorang mengagetkan kami berdua, sontak aku langsung mengambil jarak dan membiarkan Pelukan Devan lepas.

“oh. Mama. Selamat malam!”. Aku mengatur suaraku setenang maungkin, padahal nyatanya berusan hampir saja jantungku melompat keluar.”malam juga,Aila.oh iya mama tau tentang Keadaanmu saat ini,jadi kenapa kamu tidak kembali saja ke Thailand?.ia bertanya sambil menarik Lengan Devan agar menjauh dariku. jujur saja aku terluka,aku tidak sekuat itu,melihat kekasihku Digandeng Mamaku sendiri bagaimana bisa aku tidak sakit hati,yang benar saja aku merasa Mamaku Sudah gila karena telah menyukai pria yang bertaut 20 tahun darinya,Devan seumuran denganku Putri tertuanya.

Komentar